Sejak sekolah dasar, saya menyukai pelajaran matematika. Namun dalam perjalanan selanjutnya, pernah merasa malas belajar matematika karena beberapa hal. Pertama, ketinggalan materi karena ijin tidak masuk sekolah. Kedua, mendapat guru yang tidak menyenangkan. Otomatis, saat itu hasil belajar saya, baik yang tertera di raport maupun yang dirasakan, menurun dari perolehan sebelumnya. Ternyata, saat bertemu lagi dengan guru yang disukai, nilai pun kembali membaik.
Bagaimana dengan Pembaca, pernahkah mengalami hal yang serupa?

Dari hal di atas tergambar, perasaan kita saat belajar adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan atau tercapainya tujuan. Oleh karenanya, perlu disiapkan dan diatur supaya terhindar dari rasa tidak suka dalam belajar. Jika sudah muncul perasaan itu, maka kecil kemungkinannya tujuan belajar dapat dicapai dengan baik.

Bagi siswa, hendaknya jauhkan kesan tidak menyenangkan dari seorang guru. Bagaimanapun, guru dengan karakter dan penampilannya, adalah seseorang yang wajib dihargai. Memang kadang ada guru yang menyebalkan, itu tidak dapat dipungkiri. Namun, jangan biarkan rasa sebal itu tumbuh menjadi benci. Tetaplah menghormati dan menghargainya agar meminimalisir rasa tidak suka. Lebih baik lagi kalau mencoba mendekati dan mencari kelebihan-kelebihannya. Janganlah rasa tidak suka dibarengi dengan menjauhkan diri, semakin menggunung rasa negatif itu jadinya. Belajarlah untuk ikhlas dalam belajar dan ikhlas menghargai guru.


Sementara bagi guru, adalah tanggung jawabnya untuk membuat siswa minimal tidak membencinya. Syukur-syukur bisa membuat siswa terinspirasi bahkan mengidolakannya. Menjaga penampilan dari cara berpakaian, bertutur kata, sampai cara menyampaikan emosi harus diperhatikan benar-benar. Bagaimanapun, guru pasti lebih dewasa dari siswa, mestinya lebih bisa menguasai emosi.  Harus sekali untuk belajar ikhlas menghadapi siswa dengan berbagai karakter dan tingkahnya. Tapi, itu suliiit ... sungguh.

Sulit karena saya juga sering merasakan. Susah rasanya tidak terbawa jika menghadapi siswa yang menguras emosi. Dan tidak jarang itu terjadi. Yang saya rasakan, apa yang disampaikan berikutnya tidak sampai dengan baik kepada siswa. Bila sudah begitu, mungkin jalan terbaik adalah mengevaluasi diri, mengingat kembali apa yang ingin dituju sebagai goal.
Jadi berasa curhat ya .... ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Sebagai penutup, jika kamu siswa, jangan benci gurumu pun jangan terlalu menguji gurumu dengan tingkahmu. Berempatilah kepadanya.
Jika Anda seorang guru, jangan pula ada siswa yang Anda benci. Jika mulai tumbuh rasa itu, lihatlah kembali tujuan awal dan akhir menjadi guru.
Karena sesungguhnya siswa dan guru, semua adalah pembelajar. Maka belajarlah dengan keikhlasan. Termasuk ikhlas menerima siswa dan ikhlas menghargai guru.


#onedayonepost
#kelasnonfiksi
#ODOPbatch5

4 comments:

  1. Semangat menjadi guru yang dicintai dan kan selalu dirindu kehadirannya, Cikgu ^_^
    Semoga pesan dalam tulisan indah ini tersampaikan. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ... makasih mba Nia selalu. Lagi banyak terkuras energi nih

      Delete
  2. Suka mba desi, tulisannya kece, saya termasuk yg turun nilai matematikanya karena ganti guru, bukan karna benci tp saya sulit nangkap pelajaran ketika beliau menerangkan,๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

    ReplyDelete

 
Diary Guru © 2016 | Contact Us +6281567814148 | Order Template di Sangpengajar
Top